“Problematika Organisasi dan sang Organisator (renungan warga pergerakan)”

Dalam ber-organisasi atau ketika anda mendeklarasikan diri anda sebagai seorang organisator,maka pasti menemui berbagai problem dalam proses organisasi tersebut.

Antara lain problem di diri anda sendiri, dan kader sahabat/ mungkin kader yang menjadi bawahan struktural anda.

Mungkin pembagiannya seperti berikut :

Pertama kita berbicara masalah personal power, yaitu loyalitas kita. Ini yang kerap menjadi jamur tidak baik di dalam tubuh sang organisator. Kutip (sahabat bebek). Acuan utama dan paling utama , skill memang dibutuhkan tapi saat loyalitas melayang maka tidak akan ada gerak dalam organisasi alias padam hingga mati.
Kedua idealisasi,kutip (sahabat agus). Tolak ukur organisator dan organisasi nya yaitu idealisasi, pilar ini bagai benteng yang selalu mebentengi loyalitas si orang itu juga. Saat idealisasi sang organisator kuat, maka loyalitas pun memuncak.

Ketiga faktor sekitar anda, yaitu rekruitmen/kaderisasi. Hakikat ada dan tidak adanya organisasi yaitu pengkaderan, seberapa kita bisa mengaplikasikan energi kita untuk sang kader-kader sekitar kita. Bisa di sederhanakan dengan “MABIM” (masa pembimbingan) baik itu formalitas atau informalitas dalam pengkaderan. Disini juga mungkin bisa digunakan prinsip “MLM” ( multi level marketing). Bagaimana menjadi orang tua yang bisa menganakkan banyak anak, hingga nantinya reward yang akan kita dapat akan sangat banyak dan penuh karakter bintang.

Keempat, daya jual organisasi. Mungkin lebih kepada bagaimana kita membuat organisasi yang kita himpuni bisa lebih dikenal dan dicintai oleh kader-kader dalam organisasi itu sendiri. Dalam hal itu sosok/seorang / “FIGUR”,kutip (sahabat dalhar). Figur nama ngetrend-nya, ini menjadi simpul utama kecintaan kader terhadap organisasinya. “bahkan singkat cerita, terdapat dalam struktural itu sendiri, yaitu sosok seorang KETUA/PIMPINAN”.

Kelima “ friendly/ senioritas”, ini harus anda maknai dalam dengan sadar, maksudnya yaitu kapan anda harus menjadi teman bagi lingkungan kader anda, dan bagaimana menjadi “senioritas”, saya maknai yaitu bagaimana menjadi seorang guru bagi teman anda (mendewasakan sekitar anda). Menjadi senioritas itu bukan hanya memberikan kurikulum baku namun juga kurikulum fleksibilitas yang bisa memasuki individu lingkungan kader anda. Disini juga seorang senior dituntut untuk kontinuitas atau bahasa desanya ( ada saat mereka ada, ada saat mereka butuhkan, dan mengadakan saat mereka tidak ada). Ada/tidak ada disini memaksudkan bagaimana kita me-manage baik diri kita sebagai senior dan juga me-manage kader lingkungan sekitar anda. Ini juga harus dan jangan lupa untuk refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai seorang organisator untuk membimbing. Satu kesalahan jangan hanya menjadi kesalahan, tapi mencoba refleksi untuk motivasi kedepan yang lebih baik.

Keenam “ amunisi formalitas pengkaderan “. Yaitu materi dalam proses pengkaderan, baik itu saat pengenalan / lanjutan dari formalitas pengkaderan tersebut, (ex: mapaba,PKD, follow up). Dalam amunisi ini diusahakan sebisa mungkin menanamkan intelektualitas dan spirit sang organisator itu sendiri. Jangan lupa juga untuk menanamkan “IMAN ISLAM” sang kader, ini faktor penting, dan ini harus diperhatikan se-super mungkin. (ingat kerja dunia akan di pertanggung jawabkan di akhirat, maka sebisa mungkin kita meng-amunisi mereka dengan nilai “IMAN ISLAM”).

Ketujuh “memilih alumni (relasi/oposisi) bagi pengkaderan organisasi kita”. Waktu yang sudah tertuang di kehidupan mereka, maka akan menimbulkan sekat (dalam hal ini ada fakta kontaminasi kehidupan yang berseberangan dengan dunia sang- organisator/ aktivis mahasiswa). Maka kita harus pintar memilah mana yang bisa dipakai relasi untuk kemajuan organisasi kita dan bagaimana yang hanya mengumbar romantisme/ kisah fantasi dunia mereka di tampuk kekuasaan. Dan juga pintar dalam link relasi pendanaan. Melihat hari ini yang serba butuh dan membutuhkan dengan dana maka pendanaan bagai  “ HIDUP/MATI  KEGIATAN ORGANISASI”.

Kedelapan “BRANDING dan Kontinuitas Pondasi”, hal ini action, namun action yang diharapkan disini tidak menimbulkan “Syndrome Traumatis” dan kedua Kontinuitas Pondasi ( tidak meng- nol kan lagi kerja sebelumnya), dalam hal ini program yang bisa dijalankan secara berkelanjutan yaitu untuk tampuk kekuasaan selanjutnya. Maka tampuk kekuasaan selanjutnya itu tidak membuat pondasi kembali, namun memulai membangun BATA-BATA menjulang, membentuk gedung/ istana organisasi yang kuat mandiri, wah dan mencita-citakan kecintaan loyalitas”.

( wacana puncaknya menguatkan, aksi puncaknya kesadaran dan kesadaran puncaknya keberhasilan)
(ini yang perlu ditanamkan kepada diri aku, engkau, mereka dan kita)
5 A.R. Asrari Puadi: “Problematika Organisasi dan sang Organisator (renungan warga pergerakan)” Dalam ber-organisasi atau ketika anda mendeklarasikan diri anda sebagai seorang organisator,maka pas...

1 comment:

  1. Font'nya ganti yg gedean dikit dunk Pak Bos..!..maklum,cepat lelah liat note sekecil ini..

    ReplyDelete

< >