Salam Pancasila ?


Saya tidak sependapat dengan usulan "SALAM PANCASILA" menggantikan salam-salam lainnya.Bukan hanya ide ini lucu dan mentah, tapi ide ini justru menafikkan esensi pancasila itu sendiri.

Untuk menjadi pancasilais tak perlu juga menjadikan semua nya satu-seragam.
Karna pancasila justru mengajarkan persatuan bukan persatean yang diisi oleh satu isi jenis kumpulan daging, dan syarat persatuan justru ialah adanya perbedaan.

Pun Islam mengajarkan kita untuk terbiasa dengan perbedaan, atau ta'aruf.
Kata ‘ta’aruf’ dalam bahasa Arab itu tidak sekedar saling tahu dan mengenal semata, tetapi juga memiliki makna dari tiga kata yang satu akar yang sama dengan kata ta’aruf.

Pertama, i'tiraf, bahwa saling mengenal itu harus dilandasi “pengakuan, rekognisi, dan apresiasi”. Perbedaan-perbedaan kita, baik ras, suku, bangsa, bahasa, maupuan keyakinan, atau yang lain, tidak mungkin menjadi basis “saling mengenal” satu sama lain, jika tidak dilandasi atas sikap “saling mengakui, rekognisi dan, apresiasi” satu sama lain.

Kedua, al-ma’rifah wa al-‘irfan, atau pengetahuan dan kebijaksanaan. Bahwa “saling mengenal” satu sama lain itu, dimaksudkan untuk bertukar dan memajukan pengetahuan dan kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan bersama, untuk kebaikan bersama.

Ketiga, al-‘urf, atau tradisi baik dan kesepakatan-kesepakatan sosial. Bahwa “saling mengenal” satu sama lain itu, juga arahnya untuk mencari kesepakatan-kesepakatan bersama, sehingga bisa menjadi tradisi baik yang bisa menjaga persatuan dan keharmonisan sosial, untuk memelihara kebaikan hidup secara bersama.

Kesimpulan nya, usulan salam pancasila sama sekali tak memenuhi esensi pancasila dan ta'aruf itu sendiri.

--
Note : video Cak Nun ini menjelaskan analogi sederhana, untuk menambah maksud tulisan saya.
---