Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Ijtima Politik Anak Muda

Gambar
Untuk memahami apa itu ijtima tidaklah perlu harus mengerti bahasa arab, kata ijtima sudah kadung menjadi hal yang umum di masyarakat. Kata ini sebenarnya sering dipakai dalam ilmu falak (astronomi), yaitu proses berakhirnya bulan dan munculnya bulan baru dalam penanggalan hijriah. Setidaknya semenjak 2019, ijtima bertransformasi menjadi kosakata yang erat dengan dunia politik. Membuat gelombang baru dalam proses politik, menjadi langkah alternatif untuk mengusung nama-nama tertentu untuk bertarung dalam kontestasi pemilu. Terlepas dari keriuhan, dan bagaimana persepsi anda saat mendengar kata ijtima di tahun 2019 itu. Yang perlu kita sepakati bahwa ijtima adalah langkah alternatif, warna pelengkap dari proses-proses keputusan politik dari yang sebelumnya hanya dihasilkan dari meja elit partai politik. Alhasil dipakailah kata ijtima politik anak muda sebagai judul tulisan ini, semata-mata hanya ingin menegaskan bahwa sudah saatnya anak muda menelurkan keputusan politik alternatif dalam...

Menanti Gubernur Perempuan

Gambar
Bersama Ibu Khofifah Indar Parawansa, Saat Pilgub Jatim 2018 Sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, seingat penulis tercatat baru ada dua orang yang berhasil menjadi Gubernur. Yaitu, Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Provinsi Banten dan Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Provinsi Jawa Timur. Dua orang itu pun masih terbilang sangat sedikit jika kita bandingkan dengan rasio penduduk perempuan di Indonesia. Memang bukanlah perkara mudah bagi perempuan untuk memenangi pertarungan dalam kontestasi pemilu, terlebih stigma negatif terhadap kepemimpinan perempuan yang masih melekat di masyarakat. Alhasil, majunya perempuan dalam sebuah kontestasi politik tidak hanya bermodalkan visi misi, program andalan, namun juga modal keberanian untuk mematahkan stigma miring terhadap kepemimpinan perempuan. Perempuan Lebih Peka Ada yang menarik saat perhelatan Singapore Expo 2019 silam, Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pernah mengatakan, bahwa sebuah negara akan lebih maju jika dip...

Merajut Kebinekaan di Era Digital

Gambar
Saat menjadi Narasumber dalam Kegiatan Bijak Bermedia Sosial, Kerjasama Kominfo RI dan Tim Komunikasi Presiden RI Kemajuan teknologi semakin memberikan warna yang unik bagi perjalanan demokrasi di Indonesia. Lewat kehadiran era digital elit politik semakin mempunyai “panggung” untuk lebih mendekatkan diri dengan konstituen, tak heran kemudian banyak kebijakan penting yang justru lahir dari suara-suara masif lewat bantuan instrumen digital seperti media sosial. Sehingga bisa dikatakan bahwa demokrasi hari ini memasuki era baru, era demokrasi digital. Hal itu bisa dilihat dari tereduksinya jaringan-jaringan sosial yang bersifat konvensional, pertemuan-pertemuan tatap muka, dan perkumpulan-perkumpulan organisasional, oleh kehadiran fitur-fitur digital. Puncaknya dapat kita lihat dari beberapa kali kontestasi demokrasi, baik dalam momentum Pilkada atau Pilpres, yang selalu erat dengan kegiatan memobilisasi massa melalui ikhtiar digital. Selain memberi dampak positif, kehadiran era digital ...

Saracen dan Tantangan Pertahanan Nasional

Gambar
Internet seperti kita ketahui merupakan sebuah kemajuan yang memberi dua mata sisi konsekuensi, positif maupun negatif. Dipandang dari sisi positif, lewat internet kita mampu berselancar mencari tahu banyak hal, bahkan bisa dikatakan internet menjadi fondasi penting bagi berdirinya peradaban baru pencarian informasi, lebih-lebih di tengah fakta kemalasan membaca (khususnya buku) yang secara kolektif dan serius menggerogoti bangsa ini. Sebaliknya, selain memberi kemampuan mendobrak akses informasi, internet juga memberikan konsekuensi negatif bagi penggunanya. Akses terhadap informasi yang berhasil didobrak menimbulkan arus deras seperti halnya aliran air dari sebuah sungai yang tadinya mampet sekarang menjadi sangat lancar. Namun sayangnya air informasi yang mengalir deras tersebut tidak selamanya menjernihkan, acapkali malah membuat keruh bagi para pencari dan penerima informasi. Selain itu kebanjiran informasi yang terjadi membuat kita susah memfilter sebuah informasi serta semakin m...

Pilkada dan Masa Depan Hutan Kalimantan

Gambar
Dalam waktu dekat sebuah pesta demokrasi rakyat yaitu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan diselenggarakan. Sejumlah nama pasangan calon (paslon) pun sudah berlomba “berhias”, masyarakat juga disibukkan dengan berbagai aktivitas dari jalan sehat hingga berkumpul menuju panggung dangdut yang hadir menyemarakkan pidato para paslon yang ingin mendulang suara rakyat. Namun di sisi lain, hutan sebagai bagian dari alam kehidupan seolah tertinggal dari keramaian dan sihir pesona Pilkada. Padahal, baru-baru ini Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah mencatat ada 46 kali kebakaran lahan yang terjadi, dengan jumlah luasan lahan yang terbakar mencapai 482 hektare sejak Januari hingga Februari 2018. Tersebar di berbagai titik pada sepuluh daerah yakni, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Gunung Mas, Katingan, Palangkaraya, Kobar, Kotim, Seruyan, dan Sukamara. Deforestasi, Menuju Gurun Kalimantan Hutan bagi orang Kalimantan sejatinya bukan hanya se...

Gus Dur, Nasionalisme yang Romantis

Gambar
Aku ingat, matanya memang terpejam/ Tapi nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua/ Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelakak/ Dan menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar/ Lelaki itu...adalah samudera kehangatan/ Di mana setiap orang bebas berenang, berselancar ataupun menyelam/ Tanpa takut ditanya: agamamu apa? Untaian kata di atas adalah kutipan sajak dari putri Gus Dur, Inayah Wahid. Sebuah sajak yang mengingatkan kembali kepada kita bagaimana seorang Gus Dur yang pada 7 September lalu berulang tahun ke-77, hidup dan "membuka mata" kita dalam berbangsa dan bernegara dengan cara lain nan sederhana. Meskipun, di lain sisi Gus Dur juga acapkali "diremehkan" oleh sebagian pihak karena keterbatasannya. Lewat kepiawaiannya, Gus Dur membuat kita tertawa, meniada atas beban dan bertoleran atas perbedaan, serta membuat kita "bertawaf" ke dalam diri untuk melihat hal-hal yang substantif dibanding sibuk meng-intrik dan mati-mati...

Menuju Health Tourism

Gambar
“Murah, kok, njaluk slamet!” Ucapan khas Suroboyoan itu mungkin dapat menggambarkan bagaimana “harga” dan “mutu pelayanan kesehatan” mempunyai hubungan kausalitas yang saling berkaitan. Bisa dikatakan makin punya harga suatu pelayanan kesehatan, makin baik pula kualitas pelayanannya. Pasar bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA) mau tak mau menjadi sebuah hal yang harus dilakoni Indonesia sebagai salah satu anggota dan “pasar yang seksi” di ASEAN. Ironis jika pasar bebas ASEAN yang mengusung adanya kompetisi antarnegara ini hanya menjadikan Indonesia sebagai objek dari kompetisi tersebut tanpa mampu menjadi “dalang” dari lelakon pasar bebas. Bisnis di dunia kesehatan memang tidak cukup famous dibandingkan bisnis di sektor lainnya. Namun dengan ketidak-famous-an ini bukan berarti bisnis di dunia kesehatan tidak menjadi sektor yang berpengaruh bagi perkembangan ekonomi di sebuah negara. Singapura sebagai contoh dikenal sebagai negara yang menjadi tempat favorit rujukan berobat terkhus...

Mencari Jalan Keluar Defisit BPJS

Gambar
Kehadiran BPJS harus kita akui membawa angin segar bagi jaminan kesehatan di Indonesia. Kebijakan 'politik redistributif' yang mereformasi tata kelola kesehatan dari sektor finansial ini berhasil memikat rakyat, dari ketiadaan alternatif agenda politik kesehatan yang selama ini hilang tertutup agenda-agenda politik di sektor lainnya. Namun, kebijakan menaikkan iuran BPJS, terhitung pada Januari 2020 nanti menjadi hal yang tak terhindarkan dari sorotan publik. Mimpi rakyat atas jaminan kesehatan yang ideal dan berkualitas seketika terganggu. Terlebih, masih ada 25,14 juta jiwa atau sekitar 9,82% dari total penduduk Indonesia yang masih tergolong penduduk miskin. Dilema defisit BPJS Perkara defisit ini memang bukan barang baru. Setidaknya, sejak diberlakukan BPJS hampir selalu membukukan aset netonya dalam posisi minus. Hal ini disebabkan ada gap antara pembayar iuran dan premi yang harus dibayarkan BPJS terhadap fasilitas kesehatan pemberi manfaat. Tren gap ini pun semakin membe...

Anak Rantau dan Kesenjangan Daerah

Gambar
“Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemudi yang tak kenal waktu, yang selalu berjuang dengan penuh semangat, walaupun jiwa dan raga menjadi taruhannya. Sumpah Pemuda menjadi satu dari kesekian catatan sejarah atas kiprah dan perjuangan pemuda untuk bangsa.” Di masa itu, 88 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa dikumandangkan di “Kongres Pemoeda” yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta), yang sebelumnya telah lebih dahulu dilakukan di Yogyakarta. Komitmen itu kemudian diejawantahkan dalam tiga baris satu kesatuan; Bertumpah darah yang satu – Tanah Air Indonesia; Berbangsa yang satu -Bangsa Indonesia; Menjunjung Bahasa Persatuan- Bahasa Indonesia. Tiga baris satu kesatuan itulah yang kemudian sukses mengantarkan negeri pada rasa persatuan yang menggelora, menggulung kolonialis serta mewujudkan cita-cita bangsa yang merdeka. Pemuda dan Kesenjangan Daerah Setiap kita adalah pembelajar ...

Rinduku Pada Kartini, Tak Menutup Rinduku Pada Marsinah

Gambar
Setidaknya hari ini menjadi hari gegap gempita Kartini. Puluhan, ratusan bahkan ribuan wanita Indonesia merayakannya dengan beragam cara. Ada yang kemudian secara khusus “meniru” fesyen sang kartini dengan menggunakan kebaya khas, bahkan berkonde, ada juga yang merayakannya dengan sekedar menulis di jejaring akun sosmed seputar makna yang didapat dari monumentalnya seorang Kartini. Setiap peringatan 21 April (mungkin) selalu ada saja yang bertanya, “Mengapa harus Kartini ? bukan nama pejuang perempuan lainnya yang diperingati.” Ya, ini sebuah pertanyaan yang akan menimbulkan diskusi cukup panjang saya rasa. Tapi mau tidak mau harus kita akui, kepiawaian Kartini yang juga seorang santriwati dari Kyai Sholeh Darat (yang juga menjadi guru bagi pendiri dua ormas Islam terbesar di Indonesia), dalam menulis menjadi bagian yang penting tercetusnya hari Kartini. Lewat dokumentasi perjalanan hidup dan berbagai gagasannya yang tercatat dengan apik, membuat kita mudah menelusuri bagaimana sosok d...

Salam Pancasila ?

Gambar
Saya tidak sependapat dengan usulan "SALAM PANCASILA" menggantikan salam-salam lainnya.Bukan hanya ide ini lucu dan mentah, tapi ide ini justru menafikkan esensi pancasila itu sendiri. Untuk menjadi pancasilais tak perlu juga menjadikan semua nya satu-seragam. Karna pancasila justru mengajarkan persatuan bukan persatean yang diisi oleh satu isi jenis kumpulan daging, dan syarat persatuan justru ialah adanya perbedaan. Pun Islam mengajarkan kita untuk terbiasa dengan perbedaan, atau ta'aruf. Kata ‘ta’aruf’ dalam bahasa Arab itu tidak sekedar saling tahu dan mengenal semata, tetapi juga memiliki makna dari tiga kata yang satu akar yang sama dengan kata ta’aruf. Pertama, i'tiraf, bahwa saling mengenal itu harus dilandasi “pengakuan, rekognisi, dan apresiasi”. Perbedaan-perbedaan kita, baik ras, suku, bangsa, bahasa, maupuan keyakinan, atau yang lain, tidak mungkin menjadi basis “saling mengenal” satu sama lain, jika tidak dilandasi atas sikap “saling mengakui, rekognisi...

Era Politik Millenial

Gambar
Bersama Teman-teman KBFP VI Ini abad ke-21, sebuah era yang berbeda saat Soekarno muda mendirikan Partai Nasional Indonesia di abad ke-20. Abad ke-21 adalah era millenial atau kerap disebut era generasi “Z”. Masa di mana kehidupan manusia punya karakteristik tata nilai yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Era millenial adalah sebuah masa kehidupan manusia menyatu dengan internet yang mampu mengubah gaya hidup, peradaban, juga generasi. Masa di mana kehidupan digital mengharuskan manusia tak bisa lepas dari gadget dan media sosial dalam setiap aktivitasnya. Dari selfie, stalking, bullying, pamer kenyamanan hidup dan rasa galau hingga menikmati asyiknya bermain berbagai suguhan Game Online lewat sebuah HP, adalah aktivitas yang tak bisa terlepaskan di era hari ini. Dalam konteks politik, era millenial dengan energi anak muda nya, harus mampu menciptakan sesuatu dan warna yang baru dalam tradisi politiknya. Agar cita-cita luhur kesejahteraan bagi seluruh tumpah darah Indonesia bisa te...

Mendidik Perempuan, Mendidik Dua Generasi Bangsa

Gambar
Hampir seminggu sudah “selametan” atas Hari Kartini berlangsung. Riuh-riuh “fesyen” nya memang masih bergaung, contohnya tadi pagi saya masih melihat anak-anak di beberapa Sekolah Dasar yang tampil cantik dengan balutan khas Kebaya Kartini. Mungkin ini juga karena di sekolah itu menggelar lomba busana dalam rangka Kartinian. Ya, yang paling “ketara” dari hari Kartini yaitu hari berkebaya nasional, entah siapa yang memulai tapi ini seolah menjadi teridentikkan dengan hari Kartini di daerah manapun. Pertanyaannya, apakah Kartini akan selalu kita maknai dengan berkebaya ? Perempuan objek perdebatan “Nek wedok iku, yo umbah-umbah karo korah-korah” (Kalau perempuan itu, ya nyuci pakaian dan piring). Kalimat diatas menjadi kalimat lazim yang sering terdengar oleh para perempuan, terlebih bagi perempuan berdarah Jawa. Kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat yang mengawali perdebatan seorang perempuan. Apakah harus menjadi perempuan yang di rumah saja atau memilih menjadi perempuan yang berkar...

Merasakan Indonesia, Sebuah Catatan Sumpah Pemuda

Gambar
“Pemuda hadir tak hanya berbatas pada makna usia, ia hadir dengan luas untuk merasakan negerinya” Di masa itu 87 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, mengisi dengan sebuah komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa. Bukan main, proses merasakan bangsa yang mereka ejawantahkan dalam tiga baris “Satu Kesatuan” itu sukses mengantarkan negeri pada nuansa persatuan yang bergelora, yang mana menjadi modal penting kala itu dalam usaha mengusir kolonialisme demi tercapainya sebuah bangsa yang merdeka. Kini kesuksesan merasakan negeri di 87 tahun lalu itu menjadi sebuah moment penting di tiap pergantian tahunnya, beragam kemasan diolah dan disuguhkan untuk merefleksikan nilai-nilai historis dan semangat pemuda dari berbagai “Jong” nusantara. Bahkan tak terhitung berapa banyak anak muda hari ini yang juga ikut menyalakan kembali sumpah pemuda dengan kobaran semangat walau bermodal piranti gadget ala anak muda di zaman kekinian, ratusan bahkan...