Saracen dan Tantangan Pertahanan Nasional

Internet seperti kita ketahui merupakan sebuah kemajuan yang memberi dua mata sisi konsekuensi, positif maupun negatif. Dipandang dari sisi positif, lewat internet kita mampu berselancar mencari tahu banyak hal, bahkan bisa dikatakan internet menjadi fondasi penting bagi berdirinya peradaban baru pencarian informasi, lebih-lebih di tengah fakta kemalasan membaca (khususnya buku) yang secara kolektif dan serius menggerogoti bangsa ini.

Sebaliknya, selain memberi kemampuan mendobrak akses informasi, internet juga memberikan konsekuensi negatif bagi penggunanya. Akses terhadap informasi yang berhasil didobrak menimbulkan arus deras seperti halnya aliran air dari sebuah sungai yang tadinya mampet sekarang menjadi sangat lancar.

Namun sayangnya air informasi yang mengalir deras tersebut tidak selamanya menjernihkan, acapkali malah membuat keruh bagi para pencari dan penerima informasi. Selain itu kebanjiran informasi yang terjadi membuat kita susah memfilter sebuah informasi serta semakin membuka peluang besar bagi kita untuk meneguk informasi abal-abal.

Kecepatan dan daya jangkau yang luas inilah yang kemudian membuat internet menjadi pangsa pasar strategis bagi apa dan siapa saja, termasuk bagi tumbuh kembangnya industri kebencian yang baru-baru ini terungkap di publik.

Era Peperangan Baru

Bisnis informasi bohong atau hoax yang berujung pada penyebaran kebencian sebenarnya sudah sangat lazim di negara-negara berpaham demokrasi. Di Amerika Serikat contohnya, jaringan sindikat seperti Saracen biasa disebut dengan Spin Doctor, yaitu sebuah kelompok yang memiliki kemampuan menggiring opini dan membuat propaganda menggunakan infrastruktur di sosial media secara massif. Spin Doctor selain digunakan untuk mengupgrade juga mendowngrade citra seseorang, seperti seringkali terjadi dalam setiap peristiwa politik lima tahunan 'Pemilukada atau Pilpres', yang tidak hanya menyuguhkan tontonan pencitraan namun juga isu-isu liar dan black campaign.

Dari hasil penyelidikan forensik digital oleh unit Tindak Pidana Siber Kepolisian RI, terungkap sindikat yang baru tertangkap beberapa pimpinannya ini setidaknya telah mampu menggalang lebih dari 800.000 akun dengan memanfaatkan fitur grup Facebook, di antaranya Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.com. Dengan terungkapnya sindikat ini pula semakin menegaskan, narasi-narasi kebencian yang selama ini tersebar viral dan sampai pada kita bukanlah sesuatu yang biasa namun terorganisir dengan baik dan sistemik.

Terungkapnya Saracen juga mengingatkan kita pada sebuah jenis peperangan baru yang sempat booming pasca Panglima TNI dalam berbagai kesempatan pidatonya menyebut jenis peperangan tanpa bentuk yang nyata ini, atau yang biasa dikenal dengan istiah Proxy War. Jenis peperangan ini sangatlah berbahaya, karena tidak dilakukan secara langsung oleh negara yang terlibat di dalamnya melainkan menggunakan pihak lain (ketiga), atau dengan kata lain dalam Proxy War tidak bisa dilihat secara jelasa siapa lawan dan kawan.

Apa yang dilakukan Saracen juga dapat dikelompokkan sebagai Cyber War, yaitu sebuah peperangan yang menyasar orang atau masyarakat pengguna di dunia maya. Peperangan jenis ini tidak hanya oleh perseorangan dari satu akun dengan satu username yang menyerang ke satu akun lainnya, namun dikelola secara serius oleh sekelompok pasukan khusus yang biasa disebut Cyber Army.

Lewat pasukan khusus inilah beberapa macam akun dikelompokkan tugasnya sebagai attacker, counter attack, dan influencer. Sebuah pola yang sama dan dilakukan juga oleh sindikat Saracen.

Dalam era peperangan baru seperti ini lantas tidak boleh kita (wabil khusus yang berada di pemerintahan) menganggapnya hanya sebagai hal biasa, yang melahirkan kegiatan bully mem-bully. Namun harus disikapi secara tegas dan serius dengan memasukkan pertahanan Cyber sebagai doktrin baru dalam kerangka pertahanan negara, selain itu doktrin baru ini juga harus diikuti pula dengan menyiapkan sumber daya manusia serta infrastruktur teknologi mutakhir yang mampu membentengi negara dari serangan Cyber War.

Dan terakhir, yang paling penting adalah doktrin baru pertahanan nasional beserta segala upaya haruslah mempunyai agenda tunggal untuk menjaga kesatuan NKRI, bukan sebaliknya malah dibelokkan untuk mempersenjatai penguasa dan elit kelompok tertentu dengan senjata baru yang difungsikan untuk membumihanguskan lawan yang berseberangan kepentingan.

---
*Publikasi di Kalteng Pos
Saracen, Peperangan dan Doktrin Baru Pertahanan Nasional