Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Meregulasi Emosi

Gambar
Ada hari-hari ketika emosi datang begitu saja, tanpa aba-aba. Kita marah sebelum tahu sebabnya. Kita gelisah tanpa benar-benar paham apa yang ditakuti. Dalam keadaan seperti itu, sering kali bukan dunia yang terlalu bising, melainkan batin kita yang kehilangan pegangan. Saya menyebutnya sebagai masalah "meregulasi emosi". Bukan regulasi dalam arti aturan kaku, melainkan kemampuan menata. Menempatkan emosi di tempat yang semestinya, agar ia tidak mengambil alih seluruh ruang dalam diri. Seperti api: ia berguna ketika dijaga, tetapi berbahaya ketika dibiarkan menyala tanpa batas. Masalahnya, kita jarang diajari untuk menata emosi. Kita lebih sering diajari untuk meluapkannya. Marah dianggap jujur. Sedih dianggap tulus. Padahal kejujuran tidak selalu identik dengan pelampiasan. Ada emosi yang perlu diungkapkan, tetapi ada pula yang perlu dipahami terlebih dahulu. Di titik ini, jeda menjadi penting. Bukan jeda yang dramatis, bukan pula keheningan yang dibuat-buat. Hanya berhenti ...

Ketika Penyair Tak Lagi Dipanggil Oleh Raja

Gambar
Dalam sejarah peradaban, penyair bukan sekadar penghibur. Ia adalah penjaga makna. Kata-kata lahir untuk menata cara manusia memahami kuasa, waktu, dan dirinya sendiri. Karena itu, dahulu, penyair tidak bisa sembarang dipanggil. Hanya raja—atau kekuasaan yang menyadari keterbatasannya—yang meminta suara penyair hadir. Bukan untuk meramaikan pesta, melainkan untuk memberi arah. Syair, pada masa itu, memiliki bobot sosial dan politik. Hari ini, lanskapnya berubah. Kata-kata masih ditulis, puisi masih dibacakan, tetapi nilai sosialnya tidak lagi ditentukan oleh kedalaman makna. Ia tunduk pada ukuran yang berbeda: perhatian, jangkauan, dan daya jual. Dalam ekonomi budaya kontemporer, karya yang cepat dikonsumsi dan mudah dipasarkan sering kali memperoleh tempat utama, sementara karya yang menuntut jeda dan perenungan perlahan tersisih ke pinggiran. Yang berubah bukan seni itu sendiri, melainkan cara kita menilai nilai. Perubahan ini bukan kebetulan. Ia adalah konsekuensi dari industrialisa...