Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cermin

Meregulasi Emosi

Gambar
Ada hari-hari ketika emosi datang begitu saja, tanpa aba-aba. Kita marah sebelum tahu sebabnya. Kita gelisah tanpa benar-benar paham apa yang ditakuti. Dalam keadaan seperti itu, sering kali bukan dunia yang terlalu bising, melainkan batin kita yang kehilangan pegangan. Saya menyebutnya sebagai masalah "meregulasi emosi". Bukan regulasi dalam arti aturan kaku, melainkan kemampuan menata. Menempatkan emosi di tempat yang semestinya, agar ia tidak mengambil alih seluruh ruang dalam diri. Seperti api: ia berguna ketika dijaga, tetapi berbahaya ketika dibiarkan menyala tanpa batas. Masalahnya, kita jarang diajari untuk menata emosi. Kita lebih sering diajari untuk meluapkannya. Marah dianggap jujur. Sedih dianggap tulus. Padahal kejujuran tidak selalu identik dengan pelampiasan. Ada emosi yang perlu diungkapkan, tetapi ada pula yang perlu dipahami terlebih dahulu. Di titik ini, jeda menjadi penting. Bukan jeda yang dramatis, bukan pula keheningan yang dibuat-buat. Hanya berhenti ...

Ketika Penyair Tak Lagi Dipanggil Oleh Raja

Gambar
Dalam sejarah peradaban, penyair bukan sekadar penghibur. Ia adalah penjaga makna. Kata-kata lahir untuk menata cara manusia memahami kuasa, waktu, dan dirinya sendiri. Karena itu, dahulu, penyair tidak bisa sembarang dipanggil. Hanya raja—atau kekuasaan yang menyadari keterbatasannya—yang meminta suara penyair hadir. Bukan untuk meramaikan pesta, melainkan untuk memberi arah. Syair, pada masa itu, memiliki bobot sosial dan politik. Hari ini, lanskapnya berubah. Kata-kata masih ditulis, puisi masih dibacakan, tetapi nilai sosialnya tidak lagi ditentukan oleh kedalaman makna. Ia tunduk pada ukuran yang berbeda: perhatian, jangkauan, dan daya jual. Dalam ekonomi budaya kontemporer, karya yang cepat dikonsumsi dan mudah dipasarkan sering kali memperoleh tempat utama, sementara karya yang menuntut jeda dan perenungan perlahan tersisih ke pinggiran. Yang berubah bukan seni itu sendiri, melainkan cara kita menilai nilai. Perubahan ini bukan kebetulan. Ia adalah konsekuensi dari industrialisa...

Idul Fitri dan Perjuangan

Gambar
Andaikan Idul Fitri hanyalah sebuah momentum yang dinanti. Sesudah dipaksa berpuasa satu bulan ramadhan. Kemudian merasa lega karena tidak harus tersayup-sayup membuka mata dan menggerakkan tubuh untuk makan sahur lagi. Andaikan Idul Fitri adalah saat kita merasa merdeka dari kewajiban seperti kanak-kanak menjalani latihan menahan diri, tak makan tak minum dari pagi hingga senja. Lantas bersama keluarga pergi shalat di lapangan dengan rasa lepas dendam. Dan andaikan Idul Fitri adalah pada akhirnya menikmati cengkerama dengan sanak famili, bersilaturahmi, bermaaf-maafan. Kemudian semua itu kita akhiri dan kembali ke perantauan, bekerja, mencari nafkah, menghimpun kekayaan atau mempertahankan penghidupan. Andaikan itulah Idul Fitri, andaikan hanya demikian itulah Idul Fitri, maka ia hanya kebudayaan. Yang mungkin indah, tetapi tidak ada jaminan bahwa terkandung di dalamnya suatu kualitas rohani. Ia sekedar bedug yang ditabuh setahun sekali. Ia hanya kentongan atau lesung yang dipukul unt...

Dari Nanggala

Gambar
Tak ada satu orangpun yang suka dengan keberpisahan. Terlebih perpisahan itu adalah pisahnya dari kesempatan berkumpul dengan satu dua kebaikan. Terlebih perpisahan itu adalah pisahnya dari kegembiraan dan kenyamanan. Hal yang akan "hilang" dan takkan terulang. Namun, perpisahan sejatinya juga kebaikan.  Berkat perpisahan kita menjadi menghargai pertemuan, berkat perpisahan kita punya energi untuk melakukan hal-hal baru, berkat perpisahan kita senang menabung cerita-cerita baru untuk kita ceritakan kelak saat kembali bertemu. Yakinlah, perpisahan kita adalah kebaikan. Dan jarak yang terlampau jauh ini akan jadi guru baru untuk kita, guru yang mengajari kita menjadi manusia merdeka. Sembari kita berdo'a, diantara kedalaman ini, semoga Tuhan selalu menyelimuti kita. -- Dari Nanggala

Pergi Ke Jogja adalah Caraku untuk Ngetawain Kesibukan Orang-orang di Kota

Gambar
“Pergi ke Yogya adalah caraku untuk ngetawain kesibukan orang-orang Jakarta” -Sudjiwo Tedjo- Ke Jogja, ya kembali ke Jogja. Guyon nyentrik ala Presiden Jancukers itu memang ada benarnya, terlebih dengan keseharian beraktifitas di Jakarta saat ini. Sibuk, kadang macet, kadang panas, riuh dan ramai. Jogja membuat kita seperti menghilang, hanyut terbawa arus sungai bernama istimewa, hanyut dalam keindahan dan romantisnya, hanyut dan menghilang dari kesibukan-kesibukan kita di Kota. Jogja adalah tempat pas untuk kita cemburu. Cemburu pada kesejukan, keguyuban, dan keramahan setiap orang yang ada di dalamnya. Cemburu pada “Monggo mas, amit njih bu” yang berbalas dengan sebuah sapa dan senyum yang merekah. Bukankah di Kota kita jarang menemukannya ?, terlebih bagi kita yang (maaf) tiap hari berkencan dengan kesibukan di dalam kamar-kamar berpenyejuk ruangan. Jogja adalah Kasampurnaning Ngurip , tempat terbaik untuk menepi, mencari dan mengisi kembali sang “aku” dengan kerendahan, dan “Pupuh...

Berbagi dengan Semut

Gambar
Kemarin atau setiap hari akan selalu kita dapati peristiwa sebuah makanan yang dihinggapi puluhan atau bahkan ratusan semut, peristiwa yang kadang membuat kita kesal karna betapa inginnya kita dengan makanan tersebut tapi sudah didahului oleh segerombolan semut. Semut seperti kita ketahui merupakan salah satu hewan “cilik” yang berada dimana-mana di gedung tinggi bahkan di rumah-rumah, mungkin bisa dikatakan semut adalah hewan yang ada di seantero dunia. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut mungkin lebih mudahnya kita bisa mengingat lagi apa yang tergambarkan dalam sebuah film “A Bug’s Life” sebuah film yang menarik dan mendidik terutama tentang kerjasama dari koloni semut. Lantas mengapa tulisan ini seolah-olah mengajak untuk berdamai dengan semut, padahal kita sudah tau semut itu sering bikin kesal karna telah mengambil makanan kita. Seni ikhlas Semut-semut yang mengambil makanan memang sudah mengambil tanpa permisi kepada kita yang mempunyai makan...