Meregulasi Emosi
Ada hari-hari ketika emosi datang begitu saja, tanpa aba-aba. Kita marah sebelum tahu sebabnya. Kita gelisah tanpa benar-benar paham apa yang ditakuti. Dalam keadaan seperti itu, sering kali bukan dunia yang terlalu bising, melainkan batin kita yang kehilangan pegangan. Saya menyebutnya sebagai masalah "meregulasi emosi". Bukan regulasi dalam arti aturan kaku, melainkan kemampuan menata. Menempatkan emosi di tempat yang semestinya, agar ia tidak mengambil alih seluruh ruang dalam diri. Seperti api: ia berguna ketika dijaga, tetapi berbahaya ketika dibiarkan menyala tanpa batas. Masalahnya, kita jarang diajari untuk menata emosi. Kita lebih sering diajari untuk meluapkannya. Marah dianggap jujur. Sedih dianggap tulus. Padahal kejujuran tidak selalu identik dengan pelampiasan. Ada emosi yang perlu diungkapkan, tetapi ada pula yang perlu dipahami terlebih dahulu. Di titik ini, jeda menjadi penting. Bukan jeda yang dramatis, bukan pula keheningan yang dibuat-buat. Hanya berhenti ...