Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Pergi Ke Jogja adalah Caraku untuk Ngetawain Kesibukan Orang-orang di Kota

Gambar
“Pergi ke Yogya adalah caraku untuk ngetawain kesibukan orang-orang Jakarta” -Sudjiwo Tedjo- Ke Jogja, ya kembali ke Jogja. Guyon nyentrik ala Presiden Jancukers itu memang ada benarnya, terlebih dengan keseharian beraktifitas di Jakarta saat ini. Sibuk, kadang macet, kadang panas, riuh dan ramai. Jogja membuat kita seperti menghilang, hanyut terbawa arus sungai bernama istimewa, hanyut dalam keindahan dan romantisnya, hanyut dan menghilang dari kesibukan-kesibukan kita di Kota. Jogja adalah tempat pas untuk kita cemburu. Cemburu pada kesejukan, keguyuban, dan keramahan setiap orang yang ada di dalamnya. Cemburu pada “Monggo mas, amit njih bu” yang berbalas dengan sebuah sapa dan senyum yang merekah. Bukankah di Kota kita jarang menemukannya ?, terlebih bagi kita yang (maaf) tiap hari berkencan dengan kesibukan di dalam kamar-kamar berpenyejuk ruangan. Jogja adalah Kasampurnaning Ngurip , tempat terbaik untuk menepi, mencari dan mengisi kembali sang “aku” dengan kerendahan, dan “Pupuh...

Berbagi dengan Semut

Gambar
Kemarin atau setiap hari akan selalu kita dapati peristiwa sebuah makanan yang dihinggapi puluhan atau bahkan ratusan semut, peristiwa yang kadang membuat kita kesal karna betapa inginnya kita dengan makanan tersebut tapi sudah didahului oleh segerombolan semut. Semut seperti kita ketahui merupakan salah satu hewan “cilik” yang berada dimana-mana di gedung tinggi bahkan di rumah-rumah, mungkin bisa dikatakan semut adalah hewan yang ada di seantero dunia. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut mungkin lebih mudahnya kita bisa mengingat lagi apa yang tergambarkan dalam sebuah film “A Bug’s Life” sebuah film yang menarik dan mendidik terutama tentang kerjasama dari koloni semut. Lantas mengapa tulisan ini seolah-olah mengajak untuk berdamai dengan semut, padahal kita sudah tau semut itu sering bikin kesal karna telah mengambil makanan kita. Seni ikhlas Semut-semut yang mengambil makanan memang sudah mengambil tanpa permisi kepada kita yang mempunyai makan...

Mendidik Perempuan, Mendidik Dua Generasi Bangsa

Gambar
Hampir seminggu sudah “selametan” atas Hari Kartini berlangsung. Riuh-riuh “fesyen” nya memang masih bergaung, contohnya tadi pagi saya masih melihat anak-anak di beberapa Sekolah Dasar yang tampil cantik dengan balutan khas Kebaya Kartini. Mungkin ini juga karena di sekolah itu menggelar lomba busana dalam rangka Kartinian. Ya, yang paling “ketara” dari hari Kartini yaitu hari berkebaya nasional, entah siapa yang memulai tapi ini seolah menjadi teridentikkan dengan hari Kartini di daerah manapun. Pertanyaannya, apakah Kartini akan selalu kita maknai dengan berkebaya ? Perempuan objek perdebatan “Nek wedok iku, yo umbah-umbah karo korah-korah” (Kalau perempuan itu, ya nyuci pakaian dan piring). Kalimat diatas menjadi kalimat lazim yang sering terdengar oleh para perempuan, terlebih bagi perempuan berdarah Jawa. Kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat yang mengawali perdebatan seorang perempuan. Apakah harus menjadi perempuan yang di rumah saja atau memilih menjadi perempuan yang berkar...

Sajak Merdeka

Gambar
Merdeka itu sejarah, sejarah tentang cerita dari lalu yang berjuang berdarah-darah. Merdeka adalah pergi, pergi dari keputus-asaan, menyambut hari-hari baru dengan penuh keoptimisan. Merdeka itu adalah malu, malu menjadi benalu di tengah zaman yang kian maju. Merdeka itu marah, marah ketika melihat tanah air kita dirongrong oleh para penjajah penjarah. Merdeka itu mimpi, mimpi anak-anak muda untuk terus berkarya membanggakan ibu pertiwi. Merdeka itu kita, kita yang terus bersama dan yakin bahwa Indonesia akan terus hidup dan berjaya.

Merasakan Indonesia, Sebuah Catatan Sumpah Pemuda

Gambar
“Pemuda hadir tak hanya berbatas pada makna usia, ia hadir dengan luas untuk merasakan negerinya” Di masa itu 87 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, mengisi dengan sebuah komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa. Bukan main, proses merasakan bangsa yang mereka ejawantahkan dalam tiga baris “Satu Kesatuan” itu sukses mengantarkan negeri pada nuansa persatuan yang bergelora, yang mana menjadi modal penting kala itu dalam usaha mengusir kolonialisme demi tercapainya sebuah bangsa yang merdeka. Kini kesuksesan merasakan negeri di 87 tahun lalu itu menjadi sebuah moment penting di tiap pergantian tahunnya, beragam kemasan diolah dan disuguhkan untuk merefleksikan nilai-nilai historis dan semangat pemuda dari berbagai “Jong” nusantara. Bahkan tak terhitung berapa banyak anak muda hari ini yang juga ikut menyalakan kembali sumpah pemuda dengan kobaran semangat walau bermodal piranti gadget ala anak muda di zaman kekinian, ratusan bahkan...