Mendidik Perempuan, Mendidik Dua Generasi Bangsa
Ya, yang paling “ketara” dari hari Kartini yaitu hari berkebaya nasional, entah siapa yang memulai tapi ini seolah menjadi teridentikkan dengan hari Kartini di daerah manapun.
Pertanyaannya, apakah Kartini akan selalu kita maknai dengan berkebaya ?
Perempuan objek perdebatan
“Nek wedok iku, yo umbah-umbah karo korah-korah” (Kalau perempuan itu, ya nyuci pakaian dan piring).Kalimat diatas menjadi kalimat lazim yang sering terdengar oleh para perempuan, terlebih bagi perempuan berdarah Jawa. Kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat yang mengawali perdebatan seorang perempuan. Apakah harus menjadi perempuan yang di rumah saja atau memilih menjadi perempuan yang berkarir (di luar rumah).
Tak hanya sampai disitu, perempuan “millenial” pun nyatanya mengalami hangatnya perdebatan, misal saja apakah memilih berpakaian seksi atau berjilbab syar’i, apakah menikah cepat atau lajang lama, apakah begini atau begitu dan banyak lagi materi perdebatan lainnya.
Perempuan sekali lagi menjadi objek sekaligus subjek “menarik” untuk didebatkan, dimulai dari isu politik, kecantikan, hingga urusan perjodohan.
Viralnya imajinasi patriarki
Berbicara perempuan, selalu lekat dan awet dengan sebuah bahasan Patriarki, yaitu sebuah sistem sosial yang menempatkan perempuan pada tingkatan kedua atau dengan kata lain laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Patriarki inilah yang kemudian menjadi sumber atas pandangan minor terhadap perempuan.Kembali jauh ke belakang, sejatinya narasi Patriarki telah dimulai semenjak zaman Adam dan Hawa, bagaimana Hawa dipandang kala itu menjadi sumber masalah dengan menggoda Adam.
Lahirnya keterbukaan ditandai dengan semakin mudahnya membagikan apapun di jejaring maya, menjadi catatan penting kembali lahirnya budaya Patriarki di era sekarang ini.
Novel dan film yang menempatkan perempuan dipoligami misalnya, menjadi sangat viral dengan sekali klik di jejaring maya. Ironisnya materi ini juga diamini oleh banyak perempuan, mereka secara tak sadar ikut memproduksi dan menciptakan imajinasi Patriarki semakin tumbuh subur di kalangan mereka sendiri.
Oleh karena itu tantangan utama Kartini di zaman millenial yang serba kekinian ini adalah melawan dan membentengi diri dari imajinasi-imajinasi Patriarki.
Kartini dan dapur literasi
Lahirnya hari Kartini tak dapat dipungkiri tercetus dari kedekatan seorang Kartini dalam budaya literasi.Kartini hidup dengan buku-buku, dan kegiatan tulis menulis lewat surat-suratnya yang dapat kita nikmati hingga kini. Kartini seolah bersepakat dengan apa yang dikatakan Pram “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Spirit literasi itulah yang menjadi dapur intelektualitas dan energi perjuangan seorang Kartini.
Kartini yang hidup di zaman pra-literasi menjadi literater yang sangat membanggakan. Kemampuannya memvisualkan wajah patriarki, dan isu-isu hak serta keadilan perempuan menjadi kata yang menggerakkan banyak perempuan Indonesia.
Jika hari ini Kartini masih hidup, mungkin hatinya akan tersayat ketika mimpi literasi yang ia bangun nyatanya belum terlalu banyak dilakukan oleh banyak perempuan Indonesia, terlebih bagi mereka yang masih memilih sibuk shopping sana-sini ketimbang membaca, menulis dan menelurkan gagasan untuk kemajuan kaum perempuan.
Terakhir, membaca dan menulis ibarat kendi, apa yang kita tuangkan itulah yang akan terbagi. Memang susah membangun masyarakat perempuan yg meliterasi apalagi ditengah perempuan yang kini seolah terfokus pada topik galau dan kebimbangan. Namun literasi adalah bagian penting dari mendidik perempuan, yang ujar orang mendidik perempuan seperti mendidik dua generasi karena mereka akan melahirkan generasi baru dari rahim agungnya, terlebih dengan tugasnya sebagai al ummu madrasatul ula.
Selamat merefleksikan kembali makna Kartini.
